Cara melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan benar

Definisi RJP

Resusitasi jantung paru (RJP) adalah gabungan dari pertolongan pada korban gagal nafas (bantuan nafas buatan) dengan kompresi dada eksternal. Tindakan ini dilakukan ketika menemukan korban dengan gagal nafas dan gagal jantung. Ketika melakukan RJP sebaiknya:

- Penolong harus mempertahankan jalan nafas tetap terbuka
- Penolong memberikan nafas buatan untuk korban
- Penolong harus mengembalikan sirkulasi korban

Dalam prosedur ini harus tetap memprioritaskan prinsip ABC (Airway, Breathing and Circulation), karena suatu pernafasan tidak akan efektif jika jalan nafas tertutup dan sirkulasi terhenti, sedangkan darah yang bersirkulasi tidak akan efektif juga jika darah tidak teroksigenasi.

Jadi perlu diingat bahwa perdarahan dapat mengganggu sirkulasi, contohnya ketika korban megalami perdarahan hebat pada arteri femoralis, ketika dilakukan RJP akan mempercepat proses pendarahan dan bisa mengakibatkan kematian biologik. Walaupun hal ini jarang terjadi maka sebagai penolong harus mengurangi perdarahannya dahulu sebelum dilakukan RJP.

Bagaimana cara kerja RJP

Proses RJP ini sebenarnya bertujuan untuk memaksa darah yang berhenti untuk tetap mengalir dalam tubuh korban, yaitu dengan dilakukannya kompresi dada eksternal (Sirkulasi buatan).

Sirkulasi buatan dilakukan ketika korban terlentang pada permukaan yang keras dan dilakukan kompresi di dada pada garis tengah dada. Hal ini yang dapat menyebabkan perubahan tekanan di rongga dada yang membantu darah utuk bersirkulasi kembali.

Kapan dilakukan RJP

RJP ini dilakukan ketika korban mengalami henti jantung. Hal ini berarti jantungnya berhenti secara menyeluruh kemungkinan karena perdarahan hebat, syok, kerusakan jantung atau obat- obatan tertentu yang membuat jantung lemah untuk memompa darah. Korban mungkin pada saat jantungnya berhenti berdenyut masih bernafas, tetapi dalam 30-45 detik selanjutnya akan mengalami henti nafas.

Korban yang membutuhkan RJP adalah korban yang memenuhi kriteria unresponsive, tidak bernafas, dan denyut nadi carotis tidak teraba atau lemah, sangat lambat dan ireguler yang menandakan suatu krisis kekurangan sirkulasi.

Bagaimana Teknik RJP

RJP dilakukan setelah kita mendapatkan hasil dalam melakukan pemeriksaan primer yaitu korban tidak sadar, tidak ada nafas, tidak ada denyut jantung. Kejadian yang mengarah untuk dilakukanya RJP yaitu:

cara RJP benar


Posisi korban untuk RJP

Korban dengan henti jantung harus berbaring pada permukaan yang keras, seperti lantai atau papan spinal. Cedera yang terjadi pada korban bukanlah alasan menunda RJP. Karena RJP harus dilakukan secepat mungkin.

Titik Kompresi RJP

Jantung terletak dalam mediastinum, diantara sternum dan colon spinal. Sebagian besar tulang iga (costa) melekat pada sternum. Dan
tulang clavicula menyokong sternum bagian atas jantung. Supaya RJP dilakukan efekstif dan mencegah cidera maka RJP harus dilakukan pada titik kompresi.

Cara menentukan titik kompresi

  • Posisikan penolong berlutut disamping korban
  • Gunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk menentukan batas bawah dari sangkar costa
  • Jika sudah didapatkan, gerakkan jari menelussuri lengkung costa samapi ke titik ujung sternum (Proc. Xipoideus)
  • Letakkan jari tengah diatas atau pada titik tadi dan jari telunjuk pada sebelah atasnya.
  • Letakkan tumit tangan yang lain (tangan yang dekat dengan kepala korban) di atas sternum, disebelah atas jari telunjuk
  • Angkat jari-jari dari titik tadi dan letakkan tangan tersebut diatas tangan yang lain pada dada.

Kompresi dada

Selalu diingat ya: bahwa korban berbaring pada permukaan yang keras. Penolong berlutut disebelah korban dengan lutut dibuka selebar bahu penolong.
  1. Posisikan tangan penolong untuk menentukan titik kompresi
  2. Letakkan tangan yang digunakan untuk mencari titik kompresi di atas tangan yang pertama. Posisi kedua tumit tangan saling paralel satu dengan yang lain dan jari-jari kedua tangan menunjuk ke arah yang menjauhi penolong.
  3. Tangan penolong extensi, hal ini bertujuan untuk mencega cedera pada korban
  4. Luruskan lengan penolog dan kunci siku. Penolong tidak diperbolehkan menekuk siku selama melakukan kompresi atau melepas kompresi.
  5. Pastikan posisi bahu penolong melebihi sternum korban (melebihi posisi tangan penolong)
  6. Arah kompresi yang diberikan lurus ke bawah dengan tenaga yang cukup untuk menekan sternum (untuk orang dewasa kedalaman tekanan kurang lebih 1,5 - 2 inchi / 4-5 cm)
  7. Setelah melakukan kompresi lepaskan tangan tersebut tetapi jangan tekuk siku penolong dan jangan angkat tangan dari sternum.

Kompresi dada pada bayi dan anak-anak agak berbeda dengan dewasa, mengingat secara anatomis pada bayi relatif masih kecil, komponen tulang kerasnya masih belum sempurna, sehingga kedalaman dan kekuatan kompresinya harus benar-bena diperhatikan.

Pemberian ventilasi (Nafas buatan)

Ventilasi diberikan setelah penolong melakukan 1 set kompresi. Penolong dapat menggunakan teknik mouth to mouth atau mouth to nose. Waktu untuk melakukan ventilasi 1-1,5 detik

Kecepatan rata-rata pemberian kompresi dan ventilasi pada orang dewasa:
  • Kompresi: kecepatan rata-rata 80 - 100 x/mt, maka penolong dapat memberikan 30 kompresi dalam 18-30 detik (biasanya 20 detik)
  • Ventilasi: dilakukan 2 x nafas setelah 30 kompres

Meskipun penolong memberikan kompresi dengan kecepatan rata-rata 80-100 x/mt, tetapi biasanya hanya 60 kompresi yang dapat dilakukan dalam 1 menit.

Untuk memastikan penolong memberikan kompresi dengan stabil dan tepat maka penolong dapat dipandu dengan berkata: satu, dua, tiga, empat, lima dst. Ingat penolong harus memberikan 30 kompresi dalam 1 siklus.

Pemeriksaan denyut nadi 

Dalam satu siklus RJP berati 4 siklus kompresi-ventilasi (1 siklus = 30 kompresi + 2 nafas buatan). Jika sudah melakukan 1 siklus penolong dapat memeriksa denyut nadi carotis, pada saat yang sama sambil memeriksa pernafasan korban. Jika denyut nadi korban sudah kembali tetapi nafasnya tidak ada maka dilakukan ventilasi, tetapi jika nadi dan nafas tetap tidak ada maka penolong dapat melakukan kompresi-ventilasi lagi dan jangan lupa mengecek nadi tiap beberapa menit. pada bayi penolong dapat melakukan pemeriksaan nadi pada arteri brachialis.

RJP yang tidak efektif

Dengan dilakukannya RJP yang efektif bukan berarti korban dapat hidup, banyak juga korban yang tidak pulih walaupun sudah dilakukan resusitasi dengan maksimal. Tetapi dengan dilakukannya RJP yang efektif akan memberikan kesempatan pada korban untuk lebih baik.

Penyebab RJP tidak efektif yaitu:
  • Posisi kepala korban yang tidak sesuai dengan head tilt pada waktu diberikan ventilasi
  • Mulut korban yang tidak membuka lebar pada saat ventilasi
  • Mulut penolong tidak menutupi semua mulut korban
  • Hidung korban tidak ditutup pada saat ventilasi
  • Korban tidak berbaring pada alas yang keras
  • Irama kompresi tidak teratur

Komplikasi RJP

Jika tangan terlalu ke atas pada saat kompresi memungkinkan terjadinya patah tulang iga, patah tulang pada sternum dan cavikula, jika tangan terlalu ke bawah maka proc xipoideus akan patah atau akan tertekan ke dalam menekan hepar ( dapat menyebabkan laserasi dan perdarahan dalam). Jika tangan terlalu jauh dari titik kompresi akan menyebabkan costa atau kartilagonya patah.
Jika kemungkinan ada beberapa patah tulang, walaupun RJP sudah benar pada titik kompresi, penolong jangan menghentikan RJP. Karena korban akan lebih baik patah tulang beberapa dari pada korban meninggal karena penolong tidak melanjutkan RJP atau karena takut akan cedera tambahan.

Masalah di lapangan yang biasa terjadi
  • Tidak mempunyai nomor emergensi di daerah masing-masing, dikarenakan nomor di daerah yang berbeda-beda
  • Tidak menggunakan metode log and roll, metode ini memerlukan penguncian dan dibawah komando 1 orang seperti gambar di bawah
  • Korban berdarah-darah dan kotor, bisa menggunakan disposable cpr yang selalu tersedia di dompet atau tas yang kita bawa

disposable cpr 


teknik log and roll
 



 

0 Response to "Cara melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan benar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel