Mari Mengenal First Initial Asessment

Initial Assessment adalah


Bencana atau kecelakaan itu bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Hal tersebut dapat membuat rasa kaget dan takut bagi orang yang mengalami atau melihatnya. Kadang-kadang orang yang melihatnya malah panik yang justru akan memperparah korban.
Pengetahuan tentang pertolongan pertama pada korban itu sangat penting karena akan sangat membantu kondisi korban sebelum pertolongan yang lebih baik yang dilakukan dokter atau tenaga kesehatan yang lebih ahli. Tindakan pertolongan ini bukan berarti penagganannya sampai selesai, hanya sampai kondisi korban stabil. Hal-hal yang belum terselesaikan selanjutnya akan dilakukan di rumah sakit yang ditanggani oleh dokter atau tenaga kesehatan yang lain.

Apa itu Initial Assessment???

Initial Assessnent adalah Tindakan pertama yang dilakukan untuk mengetahui kondisi korban (penilaian awal pada korban) dan melakukan pertolongan yang tepat guna menghindari kematian.

Apa saja komponennya???
Tentu saja kita harus mengetahui initial assessement itu meliputi apa saja.

1. Persiapan korban

Adanya kerja sama antara pihak-pihak yang terkait sangatlah diperlukan demi kelancaran proses penangganan korban. Misalnya antara petugas di lapangan dan dokter atau tenaga medis yang akan menanggani korban. Jika koordinasinya sudah baik maka akan menguntungkan kondisi korban. Jadi sebaiknya sebelum mengirim korban, rumah sakit harus diberitahu dulu agar dapat mempersiapkan alat-alat yang nantinya akan digunakan untuk tindakan medis.
Pada tahap ini ada 2 persiapan, yaitu: persiapan pra rumah sakit dan intra rumah sakit:
Persiapan pra rumah sakit terjadi pada saat pertama kali menemui korban. Kita harus menstabilkan kondisi korban dengan cara menjaga airway, breathing serta kontrol perdarahannya. Setelah itu kita harus mengkoordinasikan dengan  rumah sakit yang akan dituju serta koordinasi dengan petugas lapangan yang lain.
Pada persiapan intra rumah sakit kita harus memperispkan Alat Perlindungan diri (APD), mempersiapkan alat-alat dan ruangan yang akan digunakan sesuai komdisi korban serta persiapan kemungkinan tindakan resusitasi. 

2. Triase

Triase adalah tindakan untuk menentukan dan memilih-milih pasien berdasarkan tingkat keparahan pasien, yang kemudian pasien diprioritaskan berdasarkan pada gangguan Airway (A), Breathing (B) dan Circulation (C). Tindakannya dilakukan secara cepat dan penangganan yang tepat.
Prioritas yang pertama akan dilakukan pada korban yang mengalami gangguan airway karena pada gangguan jalan nafas akan menyebabkan kematian yang tercepat pada korban.
Jenis triase berdasarkan warna yaitu:

Initial assessment adalah
a. Merah / Gawat Darurat
Korban yang termasuk dalam kategori warna merah adalah korban yang dalam kondisi kritis dan membutuhkan pertolongan segera. Jika tidak dilakukan pertolongan segera akan menyebabkan kematian. Biasanya terjadi sumbatan jalan nafas, perdarahan, syok dan kehilangan kesadaran.

b. Kuning / Gawat tidak Darurat
Yang termasuk dalam kategori ini adalah pasien yang gawat tetapi tidak dalam kondisi yang kritis. Korban dapat menunggu pengobatan karena kondisinya sudah stabil, tetapi masih membutuhkan perawatan di rumah sakit. misalnya korban patah tulang, luka bakar yang luas dan trauma kepala.

c. Hijau / Darurat tidak gawat
Korban yang termasuk dalam kategori ini adalah yang bisa jalan sendiri dan biasanya dapat dilakukan dengan rawat jalan. Setelah pasien yang dalam kategori merah dan kuning sudah ditangani maka yang berikutnya adalah hijau. Biasanya korban dengan luka ringan, patah tulang ringan dan luka bakar yang minimal.

d. Hitam / Tidak gawat tidak darurat
Warna hitam diberikan pada korban yang sudah meninggal atau pada korban yang setelah diperiksa tidak menujukkan tanda-tanda kehidupan atau tanda-tanda kehidupannya terus menghilang. ketika ada korban dengan luka yang sangat parah, walaupun ditangani segera mereka akan meninggal maka korban tersebut memperoleh kartu warna hitam.
Jadi prioritas pertolongan dilakukan pada kategori warna merah, kuning, hijau dan hitam.

Triase berdasarkan jumlah penderita dan kemampuan penolongnya yaitu:
a. Bencana massal yang jumlah korban dan beratnya perlukaan tidak melebihi kemampuan penolong. dengan kondisi ini korban dengan kondisi gawat dan multitrauma akan ditangani terlebih dahulu.
b. Bencana massal yang jumlah korban dan berat perlukaannya melebihi kemampuan penolong. Maka yang akan ditangani terlebih dahulu adalah yang mempunyai harapan hidup yang paling besar.

3. Survey primer, Resusitasi dan Pemeriksaan penunjang untuk survey primer

Pemeriksaan primer dilakukan secara cepat dan tepat, dimana harus memprioritaskan Airway, Breathing, Circulation dan Disability (ABCD).Ketika kita pertama kali melihat korban kecelakaan maka tindakan kita:
- D (Danger)
Penolong harus melihat situasi dan kondisi di sekitar sebelum melakukan pertolongan pada korban. kita harus memastikan korban dan penolong dalam kondisi yang aman dan memungkinkan untuk melakukan pertolongan. Jangan sampai kita melakukan pertolongan di tengah jalan yang ramai serta kita harus tetap tenang dan jangan panik.
- R (Respon)
Penolong perlu melakukan penilaian kesadaran korban, secara langsung (misalnya ditepuk bahunya), tidak langsung (misalnya dengan dipanggil)
Pada korban yang sadar akan memperlihatkan adanya pernafasan dan peredaran darah yang dapt dilihat melaui nadi. Bila korban mengalami cedera biasanya mereka akan mengerang atau kesakitan. 

Airway initial assessment
- A (Airway)
Penolong harus membuka jalan nafas jangan sampai tersumbat, jika ada sumbatan maka harus dibersihkan terlebih dahulu. Mempertahankan jalan nafasnya dapat dilakukan dengan teknik manual atau menggunakan alat bantuan (misalnya oropharing). Jangan lupa leher perlu distabilkan dahulu dengan collar neck atau sejenisnya (bisa menggunakan kertas yang agak keras untuk memfiksasi leher)

- B (Breathing)
Pernafasan dan ventilasi harus dijaga agar dapat berlangsung dengan baik. Untuk memeriksa ada tidaknya pernafasan korban, penolong dapat menempatkan sisi kepala dekat dengan korban dengan cara LIHAT, DENGAR DAN RASAKAN.

LIHAT:dengan melihat pergerakan dada
DENGAR: dengarkan aliran udara (suara nafas) dari mulut dan hidung korban
RASAKAN: dengan merasakan hembusan udara yang dikeluarkan dari mulut dan hidung korban.

Jika korban tidak bernafas, penolong dapat memberikan bantuan nafas buatan (Mouth to mouth)
- C (Circulation)

Penolong dapat menghentikan perdarahan yang terjadi untuk mempertahankan sirkulasi. Pengkajian tentang adanya tanda-tanda syok perdarahan dan pemahaman pemberian cairan sangat penting untuk menghindari keterlambatan penangganan korban.
Memeriksa denyut jantung korban dengan cara menilai denyut nadinya, jika tidak ada denhyut jantungnya maka dapat dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP). 

- D (Disability)
Dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan neurologis pada korban. Pemeriksaannya dapat dilakukan dengan metode AVPU (Alert, Verbal, Painful, Unresponsive).
Penurunan keadaran dapat terjadi karena penurunan oksigenasi atau adanya penurunan perfusi ke otak karena trauma kepala yang mengenai otak. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan GCS (Glasgow Coma Scale) secara periodik.

GCS initial assessment

- E (Environtment atau Exposure) 
Pemeriksaan secara menyeluruh dari seluruh anggota tubuh korban untuk melihat dengan jelas tanda-tanda kegawatan yang mungkin akan terlihat dan menjaga agar tidak terjadi hipotermi. Pada tahap ini dapat dilakukan pemasangan bidai atau vakum matras untuk menghentikan perdarahan.


Pada pemeriksaan/survey primer ini keadaan korban yang mengancam jiwa harus segera ditangani berdasarkan urutan diatas. Pertolongan dan resusitasi dilakukan pada saat itu juga dan usahakan sampai kondisi korban stabil. Jika tidak dapat dialukan berdasarkan urutan diatas dapat dilakukan secara simultan.

Pemeriksaan penunjang pada survey primer umumnya tidak dilakukan. Tindakan penunjang yang dapat dilakukan pada survey primer yaitu pemeriksaan saturasi oksigen dengan pulse oxymetri, foto thorak, foto polos abdomen dan foto cervikal. Tindakan yang lain bisa dilakukan pemasangan monitor EKG, kateter dan NGT.

4. Survey sekunder, Pemeriksaan penunjang, Pengawasan dan evaluasi

Tahap ini dapat dilakukan setelah survey primer selesai dengan memastikan airway breathing dan circulation dalam kondisi baik. Prinsipnya melakukan pemeriksaan secara menyeluruh bagian tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki (head to toe) dengan lebih teliti. Dengan mengevaluasi ulang tanda-tanda vital korban juga pemeriksaan anamnesa singkat yang meliputi Allergi, Medication, Past Illess, Last Meal, and Event Injury (AMPLE)

5. Terapi definitif dan rujukan

Umumnya dilakukan oleh dokter spesialis bedah. Tugas penangganan pertama yang telah dilakukan oleh dokter maka selanjutnya korban disiapkan untuk dilakukan terapi definitif atau perlu dirujuk. Jika ada indikasi korban untuk dirujuk maka segera lakukan tindakan rujukan, karena jika menunda akan menyebabkan tingginya tingkat morbiditas dan morlatilas korban.



0 Response to "Mari Mengenal First Initial Asessment "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel