Prahara Sistem Rujukan Kegawatdaruratan di Indonesia saat itu

Sistem rujukan indonesia

Sore itu tahun 2011 saatku piket sore di puskesmas tempat aku bekerja, masih teringat jelas di pikiranku sampai sekarang.

Tampak korban kecelakaan yang tergolek lemas dan darah tercecer di mana-mana. Kemudian keluarga dan masyarakat tergopoh-gopoh menggendong korban tersebut memasuki ruang UGD.

Aku harus siap, aku harus cepat dan tepat, karena saat piket sore itu memang belum ada dokter yang dijadwal seperti sekarang, hanya seorang perawat (aku sendiri), seorang bidan (sebut saja Dina) dan seorang lagi supir.

Kondisi dipersulit karena korban (Mr. S) sudah melemah, tak sadarkan diri, darah mengucur dari kepala. Saat itu aku sadar dia mengalami Cedera Kepala Sedang, berdasar nilai GCS (Glasgow Coma Scale)nya, yang artinya harus segera ditangani.

GCS adalah skala yang digunakan untuk mengetahui tingkat penurunan kesadaran pasien.
Tak hanya itu, masyarakat dan keluarga yang membawapun ikut panik, melihat kondisi korban yang berdarah-darah, aku dan Dina berusaha menenangkan sekaligus menangani Mr.S, mulai dari jalan napas, pernapasan dan sirkulasi darahnya (sesuai standar SOP) sembari berkata "sabar pak, bu, ini sedang ditangani".

Kita paham dan mengerti kalau keluarga bakal panik, bahkan aku juga akan panik kalau dihadapkan situasi seperti itu.

Tapi masyarakat dan keluarga juga harus tahu penanganan yang benar ke Mr. S, tak hanya marah-marah dan memperburuk situasi.

Saat jalan napas adekuat, pernapasan masih cukup, Dina segera menghentikan pendarahan dan mulai memasang infus.

Begitulah SOP saat itu, jalan nafas dan pernafasan harus adekuat, karena 4 menit saja korban berhenti nafas bisa fatal akibatnya, kecacatan permanen, bahkan kematian.

Waktu sudah menunjukkan 15 menit semenjak korban masuk saat itu, pendarahanpun sudah di usahakan kita hentikan, walau pendarahan dalam kepala yang tidak bisa ditangani di puskesmas.
Inilah hal-hal yang sudah puskesmas lakukan sesuai dengan tindakan pelayanan pra rumah sakit yaitu: menangani pasien hingga kondisinya stabil dan memungkinkan untuk di evakuasi ke rumah sakit yang dirujuk untuk dilakukan tindakan yang lebih mantap oleh dokter atau tenaga medis yang lain.
Benar saja, pikiran pertama yang terlintas saat itu, jelas, rujuk, rujuk dan harus segera di rujuk ke RS besar yang bisa menangani, apalagi kondisi pasien sudah stabil dimata kita, tanda-tanda vital juga stabil. Kurang diinfus saja untuk mengimbangi perdarahannya.

Tapi entah apa yang merasuki salah satu keluarga saat itu, dia marah-marah, katanya korban tidak ditangani segera, dengan intonasi tinggi. Saya pun paham, tidak seperti di kebanyakan sinetron tv yang kita tonton, tidaklah segampang itu. 

Korban di masukkan dalam ruang khusus, perawat mencegah keluarga masuk karena baru dilaksanakan tindakan. Keluarga menunggu di luar, setelah berapa lama dokter keluar memberi kabar. Pasien stabil. Oh andai semudah itu.
Sementara puskesmas sangatlah terbatas dalam segi peralatan, perlengkapan, bahan medis serta tenaga medis. Ingat ini puskesmas.  pentingkah peran puskesmas? Sangat sangat penting,

Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia, seperti teori diatas kalau 4 menit saja terlambat penanganan pernapasan, bisa fatal, kematian.

Bila perdarahan terlambat tidak ditanganipun, dalam hitungan menit sampai jam pun, korban bakal memburuk kondisinya, tergantung seberapa besar perdarahan. Seperti kita tahu manusia dewasa hanya punya kurang lebih 5 liter darah.

Bila patah tulang tidak di fiksasi, bisa memperparah kondisi luka, bergerak dan tergesek-gesek saat di jalan. Bila mengenai pembuluh darah dapat memperparah pendarahan.

Oksigenasi pun sangat berpengaruh dalam suplai oksigen dalam otak. 

Hal-hal seperti ini seharusnya sudah bisa kita pelajari dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari kita

Tak terbayangkan bila salah satu keluarga kita yang mengalami kecelakaan seperti di atas dan jarak menuju ke pelayanan kesehatan terdekat lebih dari setengah jam.

Kembali lagi ke kasus kecelakaan di atas.  

Disini aku melakukan tindakan yang namanya pelayanan ambulan dan evakuasi

Saat itu aku sedang menghubungi rumah sakit-rumah sakit yang ada di jogja, Dina sedang menginfus korban, supir sedang menyiapkan ambulan, dan Bp. B malah memarahiku "Kenapa tidak langsung di rujuk? Kenapa lama sekali teleponnya?" Intinya seperti itu yang saya tangkap di tengah hiruk pikuk, dan telepon.

Sebenarnya Bp. B ini ada benarnya juga, karena saat itu waktu sudah menunjukkan setengah jam lebih, dan RS yang ada di jogja banyak yang menolak, dengan berbagai alasan dan sebagian besar karena ICU (Intensive Care Unit) yang penuh.

Kenapa tidak langsung dirujuk?  Saat itu, tahun 2011 memang berbeda dengan sekarang, kita harus telepon dulu untuk memastikan ketersediaan ruangan, bahkan pasien gawat darurat pun harus telepon, apa jadinya kalau kita sudah sampai RS tapi ruangan penuh? Begitu kira-kira jawaban RS saat itu.

Kalau puskesmas seenaknya saja merujuk, sementara ruangan penuh. Resiko ditanggung pihak puskesmas, mulai dari dimarahi, pasien di tolak, dan disuruh pergi cari RS sendiri. Mengenaskan. Belum lagi kondisi pasien semakin memburuk.

Di mata medispun sebenarnya kondisi Mr. S tidak masuk kategori gawat darurat, karena korban sudah dilakukan pertolongan pertama dan sudah dalam kondisi stabil.
Gawat darurat adalah kondisi dimana korban yang kritis dan harus memperoleh tindakan segera. jika tidak ditangani akan mengalami kematian segera.
Mulai kehabisan ide dan melihat kondisi korban, aku pun berinisiatif untuk langsung memberangkatkan 
korban ke RS. B di jogja, yang infonya tadi penuh ICUnya.

Berpacu dengan waktu, aku tetap memonitor tanda-tanda vital korban dalam ambulan. Belum lagi kondisi jalan saat itu yang masih semrawut, tidak semua mau mengalah saat mendengar ambulan. Tidak seperti sekarang banyak motor hero, motor pembuka jalan pendamping ambulan.

Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam, belum lagi sampai di RS, drama akan dimulai lagi disini.

Kurasakan saat itu degub jantungku berdetak keras, keringat mengucur, dalam hati aku bertekad ingin segera menolong korban, tapi di lain sisi pastilah aku dimarahi, bahkan bisa di tolak.

Benar saja, belum sampai menurunkan korban, salah satu petugas dalam RS berteriak-teriak "EEHH APA ITU? BELUM TELEPON! PUSKESMAS MANA INI?", njir, perang deh. Disusul petugas-petugas lain di belakangnya.

Kulihat dari seragam yang dikenakan yang berteriak adalah perawat senior, dan disusul dokter dan perawat lainnya, sekitar 6 personel. Aku pun dikeroyok, aku dan supir. Sementara Dina siaga di puskesmas sendiri.

"Buset dah belum juga di turunkan dari ambulan" batinku, aku pun merujuk, agar pasien di masukkan dulu, tidak etis teriak-teriak disini, pliss..Akhirnya korban di masukkan ke UGD.

Tidak selesai sampai situ, pihak RS sambil tetap memarahiku, ngotot kalau korban tetap tidak bisa diterima, dengan alasan ICU penuh.

"Mas" saya berkata dengan nada rendah "saya tahu ICU penuh, sekarang saya tanya, kalau seluruh RS besar di jogja penuh, terus pasien harus dibawa kemana ya??" tanyaku, tetap berusaha lembut.

"SUDAH TAHU PENUH, KENAPA TETAP DIBAWA KESINI??GOBLOK APA IDIOT??" Mas perawat senior ngegas cuy, dia terus memarahi dan menjelek jelekan aku. Intinya tetap harus pergi cari RS lain, tanpa menjawab pertanyaanku.

Kesabaranku mulai habis, salah satunya karena korban di diamkan saja, tidak ditangani dulu seperti memasang Endotrakeal tube (ETT) dan alat penyokong lainnya.

Endotrakeal tube adalah sejenis alat yang digunakan di dunia medis, untuk menjamin saluran napas tetap bebas, ETT banyak di gunakan oleh dokter dengan spesialisasi anestesi dalam pembiusan dan anestesi.


ET sistem rujukan indonesia

Tanpa pikir panjang, aku memberikan isyarat ke keluarga korban untuk mendekat, "ya sudah, sekarang puskesmas sudah menangani korban sebisa mungkin, tapi RS menolak" bilangku tetap berusaha menahan emosi.

"Ambil kertas, kita semua tanda tangan di kertas itu, biar ada hitam di atas putih." Jelasku, "dari tiga pihak tanda tangan, puskesmas, keluarga korban dan rumah sakit", lanjutku.

Maksudku disini biar kita ada bukti penolakan, puskesmas sudah tidak bisa menolong lebih jauh, kondisi pasien semakin kritis, sementara kita sibuk berdebat.

"Saya tidak menyalahkan Rumah sakit, tapi saya juga tidak mau di salahkan" jelasku lagi, karena aku pun tahu kalau RS penuh, otomatis alat penopang hidup juga dipakai pasien lain, ventilator.

Singkat cerita, korban pun diterima dan ditangani, dokter maju untuk memasang ET, kemudian membawa korban masuk. 
Setelah korban sampai di rumah sakit dan dilakukan tindakan lebih lanjut inilah yang disebut penangganan intra rumah sakit.
Begitulah gambaran sistem rujukan di Indonesia saat itu tahun 2011, satu kasus dari banyak kasus yang terjadi di sekitar kita, belum tertangani dengan baik sesuai teori kita saat di bangku kuliah.

Bagaimana dengan sistem rujukan kegawatdaruratan di tahun 2020 sekarang? Sudah banyak perubahan yang menguntungkan korban? Semoga dengan gambaran kasus di atas menjadi cambuk bagi sistem rujukan di Indonesia untuk menjadi lebih baik.

Lihat juga: SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu)

0 Response to "Prahara Sistem Rujukan Kegawatdaruratan di Indonesia saat itu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel