4 teknik membuka jalan nafas dan penangganannya pada kasus kegawatdaruratan Pernafasan

Sebelumnya kita bahas dulu apa itu kematian klinik dan kematian biologis. Seseorang yang meninggal secara klinik yaitu pernafasan dan denyut jantungnya sudah tidak ada lagi atau berhenti.
Ketika seseorang tidak bernafas dan jantungnya tidak memompa darah yang teroksigensi, maka perubahan letal dalam otak dimulai dalam waktu 4-6 menit pertama. Kematian secara biologik terjadi ketika sel-sel otak mulai mengalami kematian, biasanya 10 menit setelah jantung berhenti maka sel-sl otak mulai mati.

Jadi kematian klinik itu dapat dipulihkan (reversibel) sedangkan kematian biologik tidak dapt dipulihkan (irreversibel).

Jika tubuh kita kekurangan oksigen maka akan terjadi hipoksia atau orang bilang sesak nafas. Orang yang mengalami sesak nafas biasanya frekuensi pernafasannya meningkat yaitu lebih cepat daripada orang normal. Jika sesak nafas berlangsung lama maka akan membuat lelah otot-otot pernafasan sehingga terjadi penumpukan CO2 (gas sisa pembakaran). Ketika kadar CO2 tinggi maka akan mempengaruhi sistem pusat saraf kita sehingga akan mengalami henti nafas.

KEGAGALAN PERNAFASAN

Meliputi berhentinya pernafasan normal dan berkurangnya proses pernafasan dimana, intake oksigen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ketika proses pernafasan sudah benar-benar berhenti maka orang tersebut mengalami henti nafas.

Dibawah ini kondisi yang dapat mengarah pada kasus henti nafas yaitu:
- Spasme berat pada trakhea dan bronkus
Hal ini terjadi karena inhalasi dari sejumlah kecil makanan atau minuman, bronkitis, asma dan gas-gas yang mengiritasi saluran pernafasan.

- Obstruksi (sumbatan) jalan nafas
Ini disebabkan ketika korban yang tidak sadar, lidahnya jatuh kebelakang, dengan posisi korban tiduran terlentang sehingga menutupi jalan nafas. Selain itu bisa juga karena inhalasi atau karean menelan benda asing (tersedak) serta membengkaknya jaringan karena trauma atau menelan benda-benda korosif.

- Mati lemas
Biasanya terjadi pada kasus pembunuhan yang menggunakan plastik, bantal atau benda-benda lain yang akan menutupi jalan nafas.

- Kompresi leher
Hal ini terjadi karena leher tercekik atau kasus gantung diri.

- Kompresi rongga thorak (trauma rongga dada)
Biasanya terjadi pada kasus kecelakaan dimana korban tidak menggunakan sabuk pengaman dan mengalami cedera pada daerah dada. Bisa juga karena jatuh, tertimpa karung pasir atau karung beras dan terhimpit reruntuhan gedung yang roboh.

- Kerusakan sistem saraf yang berkaitan dengan pernafasan
Hal ini disebabkan karena keracunan, sengatan litrik, spasme otot dan paralysis.

- Serangan yang berkesinambungan
Ini terjadi pada kasus ayan atau orang yang mengalami epilepsi.

TANDA DAN GEJALA PERNAFASAN YANG TIDAK ADEKUAT, yaitu:
- Tidak ada pengembangan dinding dada
- Terjadi pernafasan abdomen/perut (lebih dominan pernafasan perut atau mulut)
- Penggunaan otot leher saat pernafasan
- Tidak ada udara yang dirasakan atau didengar pada mulut dan hidung
- Terdengar bunyi pada pernafasannya
- Tempo pernafasannya terlalu lambat atau terlalu lambat
- Pernafasannya sangat dalam atau sangat dalam
- Kulit tampak biru atau abu-abu ( mengalami sianosis)
- Perpanjangan fase inspirasi atau fase ekspirasi
- Korban mengalami kesulitan berbicara

Pada pemberian jalan nafas dan prosedur evaluasi jalan nafas posisi korban sebaiknya dalam posisi berbaring terlentang.
Setiap gerakan yang dilakukan dalam untuk reposisi korban, penolong harus melindungi leher dan spinal (tulang leher dan tulang punggung) korban. Karena jika penolong sembarangan dalam memindahkan korban tanpa melindungi leher dan spinal bisa mengakibatkan kondisi yang lebih buruk terutama pada korban dengan cedera kepala.

Berikut ini ada beberapa teknik membuka jalan nafas yaitu:
1. Manuver Head-Tilt

cara membuka jalan nafas
 Pada teknik manuver ini digunakan pada korban yang sadar pada posisi :
- Duduk
Korban yang duduk biasanya kepala cenderung menunduk/fleksi ke arah dada, maka lakukan reposisi agar kepala tidak menunduk.
- Berbaring
Letakkan salah satu tangan penolong pada dahi korban lalu tekan ke belakang menggunakan telapak tangan secara hati-hati
Kadang-kadang dalam beberapa kasus kita menemukan korban berbaring dengan menggunkan bantal, sebaiknya hal itu perlu dihindari dengan memindahkan bantal agar mencegah kepala terlalu fleksi dan menutup jalan nafas.
Pada prosedur tidak direkomendasikan untuk korban yang mengalami cedera pada leher, kepala dan spinal.

2. Manuver Head-Tilt, Chin-lift

cara membuka jalan nafas
Teknik manuver ini dapat digunakan pada korban yang sadar maupun korban yang tidak sadar. Teknik ini digunakan untuk membuka jalan nafas secara maximal.
Caranya yaitu: Penolong dapat meletakkan satu tangan ke dahi korban dan tangan yang lain di dagu korban. Ujung jari pada dagu korban untuk mendorong dagu agar kebelakang dan meyokong rahang korban.
Pada prosedur ini tidak direkomendasikan untuk korban yang mengalami cedera pada leher, kepala dan spinal.

3. Manuver Head-tilt, Neck-lift

cara membuka jalan nafas
Pada teknik ini akan menjadi efektif jika posisi korban berbaring tetapi bisa juga dengan posisi duduk.
Caranya: Penolong dapat berlutut di sebelah kepala korban, tangan penolong yang dekat dengan kepala korban diletakkan di dahi dan tangan yang lain di bawah leher. Kemudian angkat leher korban sambil menekan dahi dengan lembut. Gerakan ini membuka jalan nasaf korban.
Pada manuver head-tilt, chin-lift tidak direkomendasikan untuk korban yang mengalami cedera pada leher, kepala dan spinal.

4. Teknik Modified Jaw-thrust Manuver

cara membuka jalan nafas
Pertolongan dengan teknik ini, korban harus dengan posisi terlentang. Penolong dapat berlutut di ujung kepala korban, siku menjadi tumpuan penolong pada permukaan yang sama dimana korban terlentang. Kemudian dengan hati-hati dan lembut letakkan tangan penolong pada kedua sisi dagu korban, di sebelah rahang korban.Stabilkan kepala korban dengan lengan bawah penolong dan dorong rahangnya ke belakang tapi jangan memutar kepala korban.
Teknik ini hanya digunakan pada korban yang tidak sadar dengan kemungkinan cedera tulang leher dan spinal.

Kondisi korban yang tidak ada nafasnya sebaiknya perlu diberi nafas buatan setelah teknik membuka jalan nafasnya dilakukan. Dibawah ini ada teknik dalam memberikan nafas buatan yaitu:

1. Ventilasi mulut ke mulut

 

Teknik ini dapat dilakukan pada korban yang henti nafas dan bisa dilakukan sendiri. penolong harus tetap menngunakan teknik membuka jalan nafas baik head tilt, chin lift,neck lift dalam memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut. Tetapi jika korban kemungkinan mengalami cedera spinal atau leher maka membuka jalan nasfas dengan menggunakan teknik jaw thrust baru kemudian bisa dilakukan nafas bantuan, tetapi minimal harus ada 2 penolong ketika melakukan teknik ini.

Pada saat melakukan nafas buatan ini sebaiknya:
- Memastikan korban tidak sadar
- Memposisikan korban dan membuka jalan nafas, jika ada darah dan muntahan, cairan yang menutupi jalan nafas sebaiknya dibersihkan
- Memastikan jika korban telah bernafas dengan cukup
- Melihat gerakan dada, mendengarkan suara nafas, merasakan adanya aliran udara dan mencatat adanya kelainan yang tidak normal, misal pergerakan dadanya abnormal
- Memastikan korban bernafas dalam 3-5 detik, tidak lebih
- Mantapkan posisi korban dengan posisi head tilt kemudian tutup lubang hidung dengan ibu jari dan telunjuk tangan yang menekan dahi
- Buka mulut peolong lebar dan ambil nafas yang dalam
- Tempatkan mulut penolong menutupi mulut korban jangan sampai ada celah
- Tetap menekan lubang hidung agar tertutup
- Hembuskan nafas ke dalam mulut korban sampai dada mengembung dan rasakan adanya tahanan yang disebabkan oleh pengembangan paru-paru. Hentikan menghembus jika terlihat dadanya naik, hal ini untuk mencegah overventilasi.
- Hentikan kontak dangan mulut korban dan buka tekanan pada hidung agar korban dapat berekspirasi secara pasif, kemudian ulangi lagi. Setiap melakukan ventilasi waktunya yaitu 1,5 detik.
- Jika korban belum bernafas spontan maka penolong dapat mengecek nadi carotis. Jika nadinya ada dan nafas tidak ada maka lakukan ventilasi dari mulut ke mulut lagi.
Teknik pertolongan ini hanya dilakukan pada orang dewasa. penolong harus memberikan 1 nafas dalam 5 detik untuk mencapai rata-rata 12 xpernafasan per menit. Sekali penolongmelakukan nafas buatan maka perlu dilanjutkan sampai korban dapat bernafas spontan atau sampai ada penolong ahli lain yang menggantikan
Masalah yang biasa terjadi pada teknik nafas bantuan ini yaitu:
- Kesalahan dalam menempatkan mulut korban dan penolong, misalnya pendorongan yang terlalu keras
- Lubang hidung tidak tertutup semuanya
- Kegagalan mempertahankan jalan nafas karean teknik headtilt tidak adekuat
- Mulut korban tidak terbuka lebar guna memperoleh ventilasi yang cukup
- Kesalahan ketika membersihkan adanya obstruksi jalan nafas

2. Ventilasi mulut ke hidung


cara membuka jalan nafas
Tidak semua korban kecelakaan kondisi mukanya bersih, kadang ada korban yang mengalami cedera pada rahang bawah dan mulutnya sehingga penolong tidak dapat melakukan ventilasi mulut ke mulut. Pada teknik ventilasi dari mulut ke hidung sebenarnya prosedurnya adalah sama, memberikan 1 nafas dalam 5 detik, perbedaannya yaitu:
- Meletakkan satu tangan penolong di kening korban untuk mempertahankan jalan nafas dan tangan yang lain menutup mulut  korban
- Hidung korban harus tetap terbuka
- Berikan ventilasi melalui hidung korban
- Lepaskan kontak dengan mulut dan hidung korban ketika membiarkan ekshalasi pasif, tetapi tangan penolong tetap di kening korban untuk menjaga jalan nafas.
Modifikasi jaw-thrust harus digunakan jika ada kecurigaan cidera leher dan spinal. Untuk teknik nafas dari mulut ke hidung ini jangan membiarkan bibir bawah terretraksi ketika di dorong memakai ibu jari.

0 Response to "4 teknik membuka jalan nafas dan penangganannya pada kasus kegawatdaruratan Pernafasan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel